Phishing di Indonesia Meningkat


Indonesia menduduki urutan ke-8 untuk kasus phishing di Asia Pasifik.
Seiring dengan semakin meningkatnya pengguna internet dan mobile banking di Indonesia, pada tahun 2008 kasus phishing di Indonesia ternyata mengalami peningkatan.

Hal itu terungkap pada hasil studi tren keamanan tahunan Symantec, yang dipaparkan di Hotel Grand Hyatt MH Thamrin Jakarta, Rabu 6 Mei 2009.

Phishing adalah metode pengelabuan terhadap pengguna internet dengan melakukan pengiriman e-mail palsu yang seolah-olah berasal dari sumber yang bisa dapat dipercaya. Isi e-mail tersebut biasanya berusaha mencuri identitas pengguna dengan motif adanya pembaruan data atau semacamnya.

Dalam hasil riset Symantec berjudul Internet Security Threat Report Volume XIV, Indonesia menduduki urutan ke delapan untuk negara yang memiliki situs phishing terbanyak di kawasan Asia Pasifik dan Jepang.

Posisi tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, di mana Indonesia hanya menduduki urutan ke-10. Namun, persentase phishing di Indonesia tidak mengalami peningkatan, yakni hanya sekitar 2 persen dari keseluruhan situs yang hosting servernya terletak di Indonesia.

Dalam hal ini, Indonesia masih berada di bawah China, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Australia, dan Thailand. Namun, Indonesia mengalahkan Malaysia, dan Singapura.

"Dari kasus phishing yang ada di Indonesia, kebanyakan mentargetkan sektor finansial," ujar Ronnie Ng, Systems Engineering Manager Symantec Singapore & Indonesia. Persentase phishing yang beredar di sektor finansial bisa mencapai hingga 76 persen.

Oleh karenanya, pengguna internet dikhawatirkan untuk selalu waspada bila menerima e-mail yang mengaku berasal dari bank. "Bila Anda mendapat e-mail sebaiknya dicek dulu melalui telepon apakah e-mail itu benar," kata Ronnie.

Senada dengannya, menurut Albert Lay, Technical Consultant Symantec, mengatakan agar berhati-hati dengan e-mail phishing yang mengaku dari Bank BCA atau Bank Mandiri. "Sebab biasanya bank tak pernah melakukan hal seperti itu," kata Albert.

Biasanya, Albert menambahkan, e-mail phishing itu isinya mengatakan bahwa bank seolah-olah sedang melakukan pembaharuan data nasabah. Lalu nasabah akan dimintakan data-data pribadi seperti nomor rekening atau nomor pin, yang kemudian bisa digunakan oleh para penjahat dunia maya.

Secara global, tren phishing juga terus meningkat. Tahun 2008, Symantec berhasil mendeteksi sekitar 55.389 situs web yang menjadi hosting phishing. Angka itu naik 66 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 33.428 situs web. • VIVAnews



Di Posting pada 11:04:42 06-09-2009
Label Teknologi
View 392



<<Prev Artikel Next>>


Komentar


Tidak ada Komentar


Posting Komentar


Nama
Email
Web Site
Komentar