Mahasiswa Penyelamat Bangsa


Sejak usia belia, Muhammad begitu dikagumi oleh orang-orang di lingkungannya karena sifatnya yang jujur, sehingga ia digelari Al Amin (orang yang dapat dipercaya). Kepribadiannya yang begitu menawan, membuat penduduk Mekah semakin menaruh simpati kepadanya. Betapa ia tak pernah sekali pun terhanyut ke dalam kebiasaan memuaskan nafsu –berupa perjudian, meminum khamr, perzinaan— yang secara terang-terangan diperagakan oleh penduduk Mekah kala itu. Ketinggian budi pekerti dan keutamaan akhlaknya itu pula lah yang membuat Khadijah, seorang saudagar kaya mengagumi dan menaruh cinta kepadanya.

Bagaimana setelah ia menjadi Rasul? Pada awal mula Rasulullah Muhammad saw. menyampaikan risalah dari Allah kepada penduduk Mekah yang selama ini menaruh hormat dan memanggilnya dengan sebutan Al Amin, sikap penduduk tersebut malah berbalik memusuhinya, bahkan mengatakan bahwa Muhammad telah gila. Hal itu terjadi karena hati mereka (kaum Quraisy) benar-benar telah tertutupi oleh kebatilan. Sehingga ajakan Rasulullah saw. untuk menyembah Allah, mereka anggap sebagai penghinaan yang luar biasa terhadap berhala-berhala yang biasa mereka sembah selama ini. Namun, dengan kearifan dan kebesaran jiwa dalam menghadapi berbagai tantangan serta berbekal sikap-sikap terpuji dalam mengajak pada kebenaran, Rasulullah saw. berhasil mengubah budaya jahiliyah kepada tatanan peradaban ilmu dan akhlak yang luar biasa menakjubkan hanya dalam waktu 23 tahun (sejak wahyu pertama turun pada umurnya yang ke-40 hingga ia wafat pada usia 63 tahun). Para ilmuwan pun sepakat bahwa tak ada yang dapat menandingi Muhammad dalam hal ini, tak terkecuali para sarjana Barat. Michael H. Hart dalam bukunya “Ranking of 100 Most Influential Person in History (100 Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah)” menempatkan Nabi Muhammad pada urutan pertama.

Apa rahasia di balik semua itu? Ternyata akhlak al karimah (akhlak terpuji) yang disandarkan pada bulatnya keyakinan kepada Sang Pencipta dalam menyampaikan dan mengamalkan ilmu (firman-firman Allah/Al Quran) adalah kunci keberhasilan tersebut.

Sejarah mencatat, sejak diutusnya Muhammad sebagai Rasul hingga abad ke-14, pengembangan ilmu maju dengan pesatnya. Selama 7 abad tersebut, kontribusi muslimin dalam dunia Iptek sangat besar dan memiliki manfaat yang dapat kita rasakan hingga saat ini. Sebut saja Ibnu Sina yang dikenal pakar dalam ilmu kedokteran. Karyanya yang berjudul Al Qanun fi Attib (The Canon), disebut-sebut sebagai inspirator dan sumber utama kebangkitan Barat di bidang kedokteran. Ada pula Ibnu Khaldun (bapak sosiologi politik), Al Biruni, penemu gaya gravitasi, jabir Ibnu hayyan (penemu ilmu kimia), Ibnu Zuhr (bapak parasitologi), dan Ibnu Majid (penemu kompas dan navigator). Mereka tersebut hidup antara tahun 750 – 1450). Yang menjadi landasan mereka dalam menggali ilmu tersebut adalah ayat-ayat kauniyah (firman-firman Allah yang terdapat di dalam Al Quran) dan ayat-ayat kauliyah (firman-firman Allah yang tersebar di alam raya). Ayat-ayat tersebut adalah inspirasi ilmiah yang kemudian mereka jabarkan dalam bentuk teori atau hukum serta rumus-rumus praktis sehingga dapat digunakan secara aplikatif dalam mengolah alam ini.

Uraian di atas tentunya harus kita bandingkan dengan keadaan kekinian yang saat ini tengah kita alami di negeri yang bernama Indonesia –negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam—, sehingga kita tidak terjebak pada romantisme sejarah: mengenang dan membangga-banggakan keberhasilan leluhur kita tanpa melakukan introspeksi atas peran yang telah dan harus kita lakukan sekarang. Bila kita melihat dan merenungkan keadaan saat ini, tentunya kita akan sangat terhenyak, karena ternyata kita telah sangat jauh menyimpang dari segala hal yang telah diajarkan dan diteladankan Rasulullah saw. Bahkan, bila kita telisik lebih dalam lagi, kondisi kita saat ini sama persis seperti keadaan kaum Quraisy sebelum Rasulullah diutus menjadi Rasul. Ketika itu mereka menyembah berhala yang bernama Latta, ‘Uza, Manat, dan Hubal. Sekarang banyak di antara kitayang menyembah harta dan jabatan. Pada zaman jahiliyah itu, mereka menistakan kaum perempuan. Sekarang malah banyak perempuan yang menistakan dirinya sendiri dengan dalih feminisme dan kesetaraan gender. Kala itu, mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup. Saat ini, pengguguran kandungan (abortus provokatus kriminalis) begitu marak terjadi.

Mungkin kita akan marah bila ada yang berkata bahwa saat ini kita tak jauh berbeda dengan kaum Quraisy sebelum diutusnya Rasulullah saw. Padahal, bila kita mau melakukan introspeksi dengan pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang, kita akan merasa malu karena kenyataannya memang demikianlah adanya, bahkan mungkin lebih parah lagi. Betapa tidak, mereka (kaum Quraisy) melakukan hal-hal yang penuh kemadharatan dan dosa sebelum Rasulullah saw. diutus untuk menyampaikan peringatan. Saat ini, banyak di antara kita melakukan seperti yang mereka lakukan saat Al Quran berada di hadapah kita.

 

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tentunya kita dapat melakukan banyak hal atas peran yang saat ini tengah kita lakoni. Sebagai mahasiswa, yang dapat dilakukan adalah menjabarkan pesan-pesan Islam melalui bidang disiplin ilmu yang tengah ditekuni, karena Islam dan Ilmu merupakan satu kesatuan, karena sumber ilmu adalah agama. Secara sistematis, dapat kita gambarkan sebagai berikut: Agama à filsafat à filsafat ilmu à ilmu.

Setelah ilmu tersebut dijabarkan, tentunya harus memiliki nilai manfaat. Dalam hal ini Islam mengajarkan konsep rahmatan lil ‘alamiin. Ilmu tersebut harus memiliki manfaat untuk seluruh alam, bukan untuk kepentingan diri sendiri ataupun golongan. Karenanya, mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual adalah sebuah keniscayaan bila kita ingin segera bangkit dari kemisikinan dan keterpurukan ini: miskin ekonomi –ditandai dengan GNP yang sangat rendah—, juga keterpurukan akhlak –ditandai dengan ketidakjujuran, fitnah, kemalasan, arogansi, mulai dari lapisan paling bawah sampai ke lapisan papan atas (pejabat tinggi).

Berikut adalah hal-hal yang harus kita jadikan bahan perenungan berkenaan dengan peran sebagai mahasiswa agar dapat menjadi mahasiswa yang memiliki kepribadian unggul serta memiliki integritas moral dan intelektual yang tinggi sehingga dapat memberikan kontribusi nyata demi menyelamatkan bangsa ini.

1. Ilmu itu anugerah Allah, banyak orang pandai tak diberi kesempatan menimba ilmu akibat kemiskinan, maka ketika kita dapat bersekolah, kita harus mensyukurinya dengan cara memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.

2. Memahami dengan baik dan benar bahwa ilmu tidak bisa dipisahkan dari agama. Dikotomi (pemisahan) antara ilmu denan agama hanya akan mengakibatkan kehancuran.

3. Penguasaan ilmu yang diiringi dengan penerapan nilai-nilai luhur seperti yang diajarkan agama, akan membawa kita pada kerendahan hati (zuhud) bukan kesombongan.

4. Kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual adalah kecerdasan yang harus selalu diasah. Karena hanya dengan memiliki multi kecerdasan tersebutlah (IQ, EQ, dan SQ), fungsi kekhalifahan dapat dijalankan dengan baik.

Bila cerdas dari sisi IQ tetapi tidak cerdas EQ & SQ, yang terjadi adalah pintar tapi kejam: sadis seperti Fir’aun dan Hitler.

Bila cerdas IQ & EQ, tetapi tidak cerdas SQ, yang terjadi adalah nuraninya menjadi buta. Contohnya koruptor.

5. Bentuk aplikasi agama yang luar biasa elegan adalah Rasulullah. Maka, teladanilah sifat-sifatnya.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al Ahzab 33: 21)

6. Begitu besar harapan digantungkan pada pemuda. Kisah Usamah bin Zaid berikut, mungkin dapat meneguhkan keyakinan kita betapa pemuda memiliki peran yang sangat strategis.

Usamah bin Zaid bin Haritsah, adalah seorang pemuda yang diangkat oleh Rasulullah sebagai panglima tentara yang di antara prajurit-prajuritnya terdapat Abu Bakar dan Umar bin Khathab. Di kalangan sebagian kaum muslimin tersiar desas-desus keberatan mereka terhadap putusan ini. Mereka menganggap tidak pada tempatnya Rasulullah saw. mengangkat seorang pemuda yang masih hijau seperti Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan tentara yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh Muhajirin dan pemuka-pemuka Anshar.

Bisik-bisik ini sampai ke telinga Rasulullah saw. Beliau pun naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan puji dan syukur kepada Allah, kemudian bersabda: “Sebagian orang mengecam pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima. Sebelum ini mereka juga telah mengecam pengangkatan bapaknya, walaupun bapaknya itu layak untuk menjadi panglima. Dan Usamah pun layak untuk menjadi panglima. Ia adalah yang paling saya kasihi setelah bapaknya. Dan saya berharap kiranya ia termasuk salah seorang yang utama di antara kalian. Maka, bantulah ia dengan memberikan nasihat yang baik!”

Sebelum tentara itu bergerak menuju tujuannya, Rasululah saw. pun wafat. Tetapi ia telah meninggalkan pesan yang kepada para sahabatnya: “Laksanakanlah pengiriman Usamah! Teruskan pemberangkatannya!”

Wasiat ini dijunjung tinggi oleh Khalifah Abu Bakar. Walaupun suasana sepeninggal Rasulullah itu telah berubah, Abu Bakar bersikeras melaksanakan wasiat dan perintah Rasulullah. Maka, bergeraklah tentara Usamah ke tempat yang telah ditetapkan, yakni setelah khalifah meminta izin kepadanya agar Umar dibolehkan tinggal di Madinah untuk mendampinginya.

Maka, tatkala Kaisar Romawi, Heraklius, mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah saw., pada waktu yang bersamaan diterimanya pula berita kedatangan tentara Islam di perbatasan Syria di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Kaisar pun merasa heran terhadap kekuatan kaum muslimin, karena ternyata wafatnya Rasulullah saw. tidak sedikit pun mempengaruhi rencana dan kemampuan mereka. Karenanya, pihak Romawi merasa kecut, dan mereka tidak berani lagi mengambil langkah selanjutnya untuk menyerang.

Pasukan Usamah pun kembali tanpa meninggalkan korban, sehingga pasukan kaum muslimin pun berkata, “Tidak pernah kita lihat, pasukan yang lebih aman daripada pasukan Usamah…”


Pembicara : dr. H. Hanny Ronosulistyo, Sp.OG(K)., M.M.
Disampaikan pada Kuliah Umum Universitas Widyatama, 3 Januari 2009



Di Posting pada 15:53:14 03-09-2009
Label Sosial
View 318



<<Prev Artikel Next>>


Komentar


Tidak ada Komentar


Posting Komentar


Nama
Email
Web Site
Komentar